Butuh langkah ekstra lindungi anak dan remaja

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Butuh langkah ekstra lindungi anak dan remaja “Negara harus meningkatkan kepedulian pada urgensi memberi perlindungan maksimal bagi anak dan remaja di ruang publik." - Bambang Soesatyo

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menilai anak dan remaja terus intai oleh ketidakamanan. Arus perubahan yang begitu cepat, telah mengeskalasi ancaman terhadap anak dan remaja, baik di alam nyata seperti predator seks dan pengedar narkoba maupun terperangkap di alam maya melalui gawai.

“Negara harus segera mengambil langkah ekstra dalam upaya meminimalisir potensi ancaman terhadap anak dan remaja di ruang publik,” ujar Bamsoet, di Jakarta, Minggu (11/3/2018).

Ditambahkannya, ada banyak fakta yang menunjukan bahwa potensi ancaman terhadap anak dan remaja semakin beragam atau sudah tereskalasi. Tidak lagi sekadar ancaman kekerasan fisik, anak dan remaja zaman sekarang pun dibayangi oleh ancaman meluasnya peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba). Zat-zat bermuatan narkoba, bahkan bisa disisipkan dalam penganan jajan anak dan remaja. 

Selain itu, meningkatnya populasi komunitas pengidap kelainan seksual atau perilaku seks menyimpang pun sudah menjadi ancaman nyata bagi anak dan remaja. Selain karena keleluasaan bergerak di ruang publik, perkembangan pesat teknologi media sosial (medsos) memungkinkan komunitas ini sangat mudah menyergap anak dan remaja, karena mereka bisa berpenetrasi hingga ke ruang tidur anak.

“Tidak pernah diperhitungkan sebelumnya, kecerobohan orang tua memberikan peralatan elektronik atau gadget sebagai mainan anak pun mulai dirasakan eksesnya. Begitu juga kecerobohan orang tua mengizinkan anak-anak mengendarai motor,” ujarnya.

Bahkan, lanjut politisi Fraksi Partai Golkar ini, banyak anak dan remaja sudah sampai pada level kecanduan terhadap gawai atau gadget. Mereka mengurung diri ditemani gadget, enggan berinteraksi sosial atau bermain bersama teman-teman sebaya. Karena fokus pada gadget, tidak sedikit anak dan remaja mengalami kesulitan menyusun kalimat ketika berbicara atau bercakap lisan. Di luar rumah, potensi ancaman terhadap anak dan remaja sangat besar.

“Negara harus meningkatkan kepedulian pada urgensi memberi perlindungan maksimal bagi anak dan remaja di ruang publik. Mengacu pada ragam ancaman itu, rumusan strategi atau kebijakan perlindungan anak dan remaja jangan lagi sepotong-sepotong, melainkan harus komprehensif. Untuk kepentingan ini, sebuah inisiatif baru sangat diharapkan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,” pungkasnya. 

Gangguan jiwa

Sebelumnya, pada Januari, Poli Jiwa RSUD dr Koesnadi Bondowoso, Jawa Timur, merawat dua siswa SMA dan SMP yang kecanduan pada penggunaan gawai dan laptop hingga menimbulkan guncangan jiwa. Remaja A (17) dan H (15), sudah hampir sebulan berada di Poli Jiwa.

Dokter spesialis jiwa RSUD, Dewi Prisca Sembiring mengatakan bahwa tingkat kecanduan kedua anak itu sudah tergolong parah. Bahkan, salah satunya membentur-benturkan kepalanya ke tembok ketika sangat ingin menggunakan gawai, namun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Dewi meyakini banyak anak lainnya yang mengalami hal serupa, namun orang tua mereka enggan membawa anaknya ke rumah sakit atau kurang menyadari tentang masalah yang sedang dihadapi si anak.

"Untuk masalah ini kami memang harus terus melakukan sosialisasi agar masyarakat semakin tahu bahwa RSUD Bondowoso kini juga merawat pasien dengan masalah kejiwaan. Masalah kejiwaan ini tidak identik dengan gila, tapi mereka yang mengalami tekanan dan lainnya perlu perawatan dan tidak usah malu, termasuk kami sosialisikan informasi bahwa pasien ini juga bisa di cover dengan BPJS," katanya.

Ia menjelaskan bahwa dari data yang dia kumpulkan, anak-anak yang kecanduan gawai dan permainan (game) itu awalnya tidak disadari oleh orang tuanya. Orang tua baru menyadari setelah si anak jarang masuk ke sekolah dan prestasi akademiknya terus menurun.

Menurut dia, hasil psikotest terhadap salah seorang anak menunjukkan bahwa pasien itu telah mengidentifikasi dirinya sebagai pembunuh. Sementara itu, orang yang paling dibencinya adalah orang tuanya yang dianggap sebagai penghalang dirinya untuk berhubungan dengan laptop dan gawai.

"Syukurlah dari penanganan yang kami lakukan hasilnya sudah mulai membaik. Banyak metode yang kami lakukan untuk menangani pasien ini, termasuk terapi realita. Saya ajak si anak untuk melihat pasien dengan gangguan jiwa akut atau psikotik. Saya bilang pada anak itu, kalau kamu tidak mau melepaskan diri dari game, lama-lama menjadi seperti mereka yang menderita psikotis itu. Dia kemudian terdiam dan saya suruh peluk ibunya. Akhirnya pikiran dia tentang gadget atau laptop berubah," katanya.

Ia menjelaskan kasus dua anak itu hendaknya menjadi peringatan bagi semua orang tua dan semua pemangku kepentingan di sekolah supaya anak-anak betul-betul mendapatkan perhatian.

Menurut dia, secara psikologis, anak-anak itu mencari kesenangan hati di perangkat teknologi informasi karena tidak mendapatkan itu dari lingkungan sekitarnya, khususnya orang tua.

Jonan targetkan izin usaha Freeport rampung akhir tahun
Freeport salahgunakan ribuan hektar hutan lindung
 Fahri Hamzah ingatkan netralitas Polri terkait kasus Habib Bahar Smith
Fahri Hamzah nilai KPU kurang inovatif soal kotak suara
Polisi tahan Habieb Bahar Bin Smith
Golkar: kami yang pertama dukung Jokowi
Fahri Hamzah ungkap kepentingan Amerika dalam konflik Israel-Palestina
Warga potong salib makam dan larang keluarga yang wafat berdoa di TPU
IHSG bakal menguat jelang keputusan The Fed
PDIP nantikan klarifikasi Wiranto soal pengrusakan bendera Demokrat
Kurang potennya Ma'ruf Amin dan ramalan Jokowi bakal kalah karena sang wakil
Wartawan tewas naik 14 persen di sepanjang 2018
Negara tak akan punah karena Prabowo kalah
KPU: Kotak suara kardus hemat 70 persen
Prabowo sentil elit koalisi belum nyumbang, PKS: Kami otomatis bantu
Fetching news ...