3 kisah tragis pendiri Indonesia di akhir hidupnya

REPORTED BY: Siti Dzakiyyah

3 kisah tragis pendiri Indonesia di akhir hidupnya

Perang kemerdekaan yang terjadi beberapa masa silam, banyak meninggalkan beragam kisah bagi para pelakunya.  Tak terkecuali 3 tokoh besar ini, yakni Soekarno, Syahrir dan Tan Malaka

Jangan pernah mengira bahwa menjadi seorang tokoh besar terkemuka di sebuah negeri, akan menjamin bahwa hidupnya akan selalu berada dalam kemegahan dan mendapatkan perlakuan yang istimewa.

Tak jarang bahkan, seorang yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk memperjuangkan sebuah negara, di akhir hidupnya harus mengalami penderitaan di negara yang diperjuangkannya.

Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia telah mencatat 4 tokoh besar yang telah membangun pondasi dasar terbentuknya negara Indonesia, yang kemudian dikenal sebagai “4 Serangkai Bapak Pendiri Republik”, yaitu Soekarno, Hatta, Syahrir dan Tan Malaka.

Namun sejarah itu juga telah mencatat, bahwa pada akhirnya, 3 orang dari 4 tokoh pendiri bangsa Indonesia  ini, harus menjalani penghujung  hidup yang tragis dan memilukan:

Seperti dilansir dari Nulis.co.id, berikut 3 kisah tragis pendiri Indonesia di akhir hidupnya:

1. Tan Malaka

Dapat dipastikan bahwa sosok yang bernama asli Ibrahim Datuk Tan Malaka ini adalah tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia yang paling misterius dengan kisah hidup yang paling tragis dengan petualangannya yang hingga kini masih tertutup kabut misteri.

Walaupun kisahnya tak banyak terungkap dalam sejarah formal bangsa Indonesia, namun tak ada yang dapat menyangkal peran pria yang berperawakan kurus kecil ini dalam mata rantai sejarah kemerdekaan Indonesia.

Bahkan majalah Tempo menobatkan pria yang berasal dari nagari Pandan Gadang Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat ini sebagai salah satu dari 4 Serangkai Bapak Pendiri Republik bersama Soekarno, Hatta dan Syahrir.

Tak salah lagi, karena beliaulah orang yang pertama kali meletakkan dasar-dasar konsep negara Indonesia berbentuk republik, yang bahkan pada saat itu pemerintah Kolonial Belanda masih bercokol di Indonesia.

Lebih dari separoh masa hidupnya dihabiskan dalam status pelarian dan buronan pemerintah kolonial, hidup berpindah-pindah dari kampung halamannya di Sumatera Barat, Jawa, Beijing, Moskow, Filipina, Singapura, akhirnya kembali ke Jawa di saat menjelang kemerdekaan Indonesia.

Namun nasib baik seperti tak berpihak kepadanya, setelah negeri ini merdeka, bukannya kursi empuk kekuasaan yang ia dapatkan.

Karena dianggap berseberangan pemikiran dan dan dianggap membahayakan pemerintahan oleh Soekarno, ia dieksekusi mati di hutan belantara Selopanggung Kediri pada 21 Februari 1949 oleh pasukan TNI dibawah pimpinan Letda Soekotjo dari Divisi Brawijaya.

 

Selama puluhan tahun lokasi makamnya tidak jelas rimbanya, baru menemui titik terang pada tahun 2009 setelah mendapatkan petunjuk dari hasil penelitian sejarawan Belanda Hary A Poezoe. Sebuah makam yang tidak dikenal di area pemakaman yang jauh dipelosok desa Selopanggung Kediri, diyakini sebagai tempat berkuburnya sosok Tan Malaka.

Bahkan pada tanggal 21 Februari 2017 kemarin, bertepatan dengan peringatan hari kematiannya, makam ini dikunjungi oleh 150 orang penghulu adat yang merupakan anak kemenakan dari Tan Malaka dari kampung halamannya di Sumatera Barat.

Rombongan tersebut mengambil sebagian dari tanah makam untuk kemudian dibawa dan dimakamkan kembali di tanah kelahirannya di Pandam Gadang Kecamatan Suliki Kabupaten Limapuluh Kota di Sumatera Barat.

Hal ini sebagai bentuk simbolis membawa pulang sosok pemimpin yang telah lama hilang, karena memang di kampung halamannya Tan Malaka adalah sosok seorang raja bagi kaumnya.

2. Sutan Syahrir

Dijuluki sebagai “Bung kecil”, karena perawakkannya yang memang terbilang mungil, Syahrir adalah salah satu tokoh yang paling banyak tercatat jejak rekam hidupnya dalam buku-buku sejarah perjuangan Indonesia.

Berkawan erat dan berorganisasi bersama dengan Mohammad Hatta semenjak kuliah di Belanda, sama-sama ditahan dan dibuang oleh pemerintah kolonial ke Bouven Digul hingga Banda Neira, sampai pada berjuang bersama dalam usaha memproklamirkan Indonesia dari penjajahan Jepang.

Setelah kemerdekaan, Ir. Soekarno 2 kali mempercayakan jabatan Perdana Mentri kepada Syahrir sehingga ia tercatat sebagai Perdana Menteri terlama di dalam sejarah pemerintahan Indonesia.

Namun hubungan eratnya dengan Soekarno memburuk setelah pada tahun 1958 meletus peristiwa PRRI di Sumatera, dan Syahrir dianggap mendukung pemberontakan itu. Pada 1960, PSI partai yang didirikannya dibubarkan oleh Soekarno.

Klimaksnya pada 1962, Syahrir dijebloskan ke penjara tanpa peradilan oleh rezim Soekarno. Hidup di penjara menjadikan kondisi kesehatannya menurun dan semakin memburuk. Hingga akhirnya serangan stroke yang menimpanya di penjara, memaksa rezim Soekarno untuk mengizinkannya berobat ke luar negeri. Pada 21 Juli 1965, Syahrir diterbangkan ke Zurich, Swiss untuk menjalani pengobatan meski tetap dalam status tahanan.

Namun takdir berkata lain, Syahrir menghembuskan nafas pada 9 April 1966 dalam status sebagai tahanan politik mantan rekan seperjuangannya sendiri,  yaitu Soekarno.

Sebagaimana Pidato Hatta pada upacara pemakamannya, “ Syahrir menghabiskan separuh hidupnya untuk memperjuangkan Indonesia merdeka, menderita dan melarat dalam perjuangan Indonesia merdeka, tapi ia sakit dan meninggal dalam tahanan Republik Indonesia yang merdeka”

3. Soekarno

Tak perlu banyak penjelasan lagi rasanya untuk tokoh yang satu ini. Sudah terlalu banyak literatur yang menjelaskan besarnya jasa dan perjuangan Bapak Proklamator ini.

Bersama sahabat sekaligus lawan politiknya, yaitu Drs. Mohammad Hatta, beliau berdualah yang telah merintis, memperjuangkan dan pada akhirnya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Namun apa daya, setelah sempat memimpin negara ini hampir selama 22 tahun, beliau harus dilucuti kekuasaannya oleh pemerintahan Orde Baru pada tahun 1967. Adalah peristiwa pemberontakkan G-30-S/PKI yang membuka jalan keruntuhannya.

Dituduhkan ikut berperan dalam peristiwa kelam dalam sejarah itu, beliau harus menjalani tahanan rumah di Wisma Yaso selama 3 tahun. Hingga akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada 21 Juni 1970 di RSPAD dalam status sebagai tahanan yang di awasi dan dijaga ketat oleh aparat keamanan rezim yang berkuasa.

Rusia tuding Israel penyebab jatuh pesawat Ilyushin II-20
Rahasia menghasilkan anak seperti Sandiaga Uno
Meskipun menang pilpres, Prabowo tak bisa intervensi kasus Buni Yani
Golkar panggil caleg yang dukung Prabowo
 Fadli Zon laporkan balik Rian Ernest soal potong bebek angsa PKI
Berebut magnet Yenny Wahid
Bamsoet harap Yenny Wahid dukung Jokowi
Golkar anggap dukungan kadernya ke Prabowo bukan suara resmi partai
Forum caleg Golkar dukung Prabowo-Sandiaga Uno
Golkar nilai perempuan penentu utama, bukan objek pelengkap
Menyusui tandem butuh dukungan ayah ASI
Mardani dapat tugas kawal suara emak-emak
Menangkan Prabowo atau Buni Yani masuk bui
Anak berbohong, bagaimana mengatasinya?
Berhasil jatuhkan Ahok, Buni Yani masuk tim Prabowo
Fetching news ...