Permasalahan dalam holding BUMN Migas

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Permasalahan dalam holding BUMN Migas

Rencana pembentukan holding migas dalam tubuh BUMN masih menyisakan banyak permasalahan hukum. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Inas Nasrullah Zubir beranggapan proses pembentukan holding migas perlu melibatkan DPR, sebagai tanggung jawab tugas legislasi dan pengawasan pada setiap perubahan aset yang menyangkut kekayaan negara. 

“Sebanyak 29 persen pemegang saham PGN belum menyetujui holding tersebut,” papar Politisi dari Fraksi Partai Hanura ini di Jakarta, Senin (12/3/2018).

Pembentukan holding migas ini akan memberikan peran dominan untuk PT. Pertamina, sedangkan PT. Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai basis dari penghasil gas diperkirakan tidak optimal. Aspek lain yang bisa menimbulkan masalah adalah potensi konflik kepentingan dalam tubuh holding migas itu nantinya. Sebab, Pertamina yang selama ini merupakan perusahaan yang bisnis utamanya bergerak di sektor minyak masih menggantungkan 60 persen kebutuhan dalam negeri dari impor.

Sementara itu, gas bumi yang sangat banyak dimiliki oleh bumi Indonesia yang merupakan inti bisnis PT. PGN, belum dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Inas juga mengatakan, potensi masalah yang dianggap remeh oleh pemerintah dalam pemaksaan holding migas yakni terdapat penolakan pemegang saham hingga 29 persen.

Masalah lain yang diungkapkan Inas yakni rencana pembentukan holding migas ini terjadi di tengah berlangsungnya proses gugatan Undang-Undang BUMN. Apabila gugatan ini dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK), putusannya akan berimbas kepada turunannya, termasuk PP Holding. Dengan demikian, kebijakan holding tidak memberikan kepastian hukum.

Selain itu, masih adanya perbedaan konsep holding BUMN migas dengan konsep kelembagaan yang sedang dibahas dalam Revisi UU Minyak dan Gas Bumi oleh DPR akan berpotensi menimbulkan konflik.

“Rencana pembentukan holding BUMN migas tanpa menunggu arah dari Revisi Undang-Undang Migas dapat menyebabkan inefisiensi nasional karena diperlukan penyesuaian kelembagaan yang cukup rumit,” tegasnya.

Inas menyatakan kebijakan holding migas perusahaan BUMN terlalu terburu-buru hingga mengabaikan berbagai aspek sehingga berdampak pada pencaplokan PT PGN ke dalam PT Pertamina tidak menghasilkan kinerja optimal.

“PP No 6 tahun 2018 tentang holding migas terlalu terburu-buru karena RUPS Luar Biasa PGN yang lalu masih menyisakan masalah,” katanya.

Sebelumnya, Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan menyatakan secara institusional cukup sulit menyatukan PGN sebagai perusahaan terbuka yang tercatat di BEI dengan Pertamina yang tidak terbuka. Bahkan, dia menduga langkah akuisisi ini tidak seharusnya dilakukan semata untuk menyelamatkan utang Pertamina yang terus menumpuk.

“Ini merupakan rangkaian dari rencana pemerintah membentuk perusahaan induk (holding) BUMN di sektor minyak dan gas (migas). Kajian mendalam menjadi keniscayaan untuk dilakukan sebelum mengakuisisi. Untung rugi musti diperhatikan pula oleh Kementerian Keuangan, PT. PGN, dan PT. Pertamina,” ungkap Heri di Jakarta, Jumat (19/01/2018).

“Jangan sampai ini jadi akal-akalan pemerintah untuk menyelamatkan Pertamina dari kondisi utang yang terus menumpuk. Per Desember 2017 utang Pertamina tercatat sebesar Rp153,7 triliun,” lanjut politisi Partai Gerindra itu.

Mantan Wakil Ketua Komisi VI itu mengingatkan, awal pembentukan PGN sebagaimana termaktub dalam PP No.19/1965 dan ditegaskan pula dalam PP No.37/1994 bahwa PGN harus mengembangkan dan memanfaatkan gas bagi kepentingan umum dan menyediakan gas dalam jumlah dan mutu yang memadai untuk melayani kebutuhan masyarakat.

“Sekali lagi semua pihak harus melakukan kajian mendalam dan terhindar dari niat tersembunyi yang ingin mengkerdilkan misi besar BUMN,” tandas Heri.

Jonan targetkan izin usaha Freeport rampung akhir tahun
Freeport salahgunakan ribuan hektar hutan lindung
 Fahri Hamzah ingatkan netralitas Polri terkait kasus Habib Bahar Smith
Fahri Hamzah nilai KPU kurang inovatif soal kotak suara
Polisi tahan Habieb Bahar Bin Smith
Golkar: kami yang pertama dukung Jokowi
Fahri Hamzah ungkap kepentingan Amerika dalam konflik Israel-Palestina
Warga potong salib makam dan larang keluarga yang wafat berdoa di TPU
IHSG bakal menguat jelang keputusan The Fed
PDIP nantikan klarifikasi Wiranto soal pengrusakan bendera Demokrat
Kurang potennya Ma'ruf Amin dan ramalan Jokowi bakal kalah karena sang wakil
Wartawan tewas naik 14 persen di sepanjang 2018
Negara tak akan punah karena Prabowo kalah
KPU: Kotak suara kardus hemat 70 persen
Prabowo sentil elit koalisi belum nyumbang, PKS: Kami otomatis bantu
Fetching news ...