Ahok bebas, apa pengaruhnya pada Pilpres?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Ahok bebas, apa pengaruhnya pada Pilpres? Basuki Tjahaja Purnama

Bebasnya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kemungkinan besar tidak akan memberi pengaruh yang signifikan terhadap elektabilitas dari dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden, kecuali jika Ahok kembali 'berulah'.

Pada Pilpres 2019, Ahok punya empat pilihan politik: mendukung petahana, paslon 02, netral, atau abstain. Opsi terakhir tampaknya tidak akan diambil Ahok, sebab melalui surat yang dibuatnya baru-baru ini, ia justru mengimbau pengikutnya supaya tidak golput.

Kalau membaca suratnya, ada kecenderungan Ahok akan memilih opsi ketiga: netral. Sinyalnya ke sana. Tetapi, Ahok tidak mudah ditebak, kalau tidak mau disebut inkonsisten.

Dulu, misalnya, dia pernah tegas menolak diusung oleh partai untuk maju di Pilkada DKI Jakarta. Maunya melalui jalur independen, tetapi ujung-ujungnya diusung oleh partai juga.

Jadi, walaupun tidak memberi kode dukungan kepada salah satu paslon, surat tersebut bukan menjamin Ahok akan mengambil sikap netral atau hanya puas menjadi Pemilih di Pilpres.

Tetapi, untuk memilih opsi kedua: mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, kemungkinannya lebih kecil lagi. Ada hambatan psikologis dari masing-masing pihak untuk membangun kerjasama politik.

Ahok sepertinya berat untuk mendukung paslon 02 karena secara riil politik, partai-partai pendukung Prabowo-Sandi justru merupakan lawan politiknya.

Sementara itu, dari kelompok pendukung Prabowo-Sandi pun tampaknya masih memperlihatkan sikap anti-Ahok. Sikap itu terutama datang dari mereka yang sangat keras menentang Ahok pada kasus penodaan agama. Oleh sebab itu, saya menduga pada gilirannya Ahok akan mendukung pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin. 

Walaupun dukungan itu mungkin tidak langsung ia nyatakan di hari kebebasannya pada tanggal 24 Januari mendatang atau pada waktu dekat, tetapi dipertengahan waktu atau menjelang hari pemungutan suara boleh jadi dukungan itu akan ia berikan.

Soal dukungannya akan ia sampaikan secara ekplisit atau implisit, itu soal lain. Tetapi, pilihan pada opsi yang pertama ini tampaknya menjadi kemungkinan yang paling besar.

Bahwa di kubu paslon 01 ada figur cawapres Ma'ruf Amin yang punya peran besar menjebloskan Ahok ke penjara, itu saya kira bisa diselesaikan lewat kompromi politik.

Apalagi, Ma'ruf Amin sendiri sudah pernah menyampaikan permintaan maaf untuk kasus Ahok yang ia sebut terpaksa ia lakukan karena suatu situasi.

Tetapi jika kelak Ahok mendukung paslon 01, hal itu tampaknya tidak akan memberi banyak pengaruh terhadap peningkatan suara Jokowi-Ma'ruf. Sebab, kecenderungannya pendukung Ahok selama ini sudah mendukung capres petahana.

Artinya, tanpa adanya pernyataan dukungan dari Ahok sekalipun, tren dukungan para 'Ahokers' terhadap paslon 01 sebenarnya sudah tergambar didalam hasil survei, misalnya.

Masalahnya, dukungan Ahok kepada Jokowi-Ma'ruf justru bisa merugikan bagi pasangan itu jika Ahok kembali membuat “ulah”. Hal ini mengingat Ahok adalah sosok kontroversial yang ucapannya seringkali memantik kemarahan dari pihak lain.

Kelompok 'swing voters' Jokowi-Ma'ruf bisa saja mengalihkan dukungannya ke kubu Prabowo-Sandi jika Ahok tidak berhati-hati dalam mengeluarkan ucapan.

Sekali saja Ahok melakukan blunder yang menyangkut isu-isu sensitif, maka selain berpotensi kehilangan suara dari pemilih 'bersayap', Jokowi-Ma'ruf juga akan semakin berat untuk mempengaruhi kelompok 'undecided voters'.

Kekhawatiran tentang hal itu bukan tanpa alasan, sebab dalam surat Ahok terdapat frasa yang menyebutkan "Aku akan semakin arogan dan kasar dan semakin menyakiti hati banyak orang".

Lebih jauh lagi, jika Ahok kembali 'berulah', maka hampir dapat dipastikan iklim Pilpres 2019 akan lebih panas dari Pilkada DKI Jakarta 2017.

Penulis: Said Salahudin, Direktur Sinergi masyarakat untuk demokrasi Indonesia (Sigma).

Fadli Zon nilai ujian nasional tak selesaikan persoalan standardisasi pendidikan
KPU nilai debat ketiga lebih kondusif dibanding debat kedua
Golkar nilai debat cawapres tak seimbang, Ma'ruf Amin jauh lebih menguasai
Kubu Prabowo nilai Ujian Nasional pantas dihapus
Allah lebih memihak perempuan?
Politisi Demokrat desak audit lingkungan di Pulau Wawonii dan Kabaena
Bautista kembali menangi balapan kedua WSBK Thailand
Penjelasan Bank Mandiri soal surat tagihan perusahaan Prabowo
Infrastruktur langit Ma'ruf Amin sempat buat penonton debat tertawa spontan
Bamsoet: Kalau tidak ada UN, kualitas pendidikan akan timpang
Hari ini, IHSG diprediksi terkoreksi wajar
Cara mutusin hubungan dengan baik
DPR RI berhasil dorong isu diskriminasi muslim Ulghur di Parlemen OKI
Usai menangi balapan pertama, Selisih poin Bautista dengan Rea semakin melebar
Anggota DPR minta masyarakat tak reaktif sikapi aksi teror di Selandi Baru
Fetching news ...