Siapa milik siapa?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Siapa milik siapa? "Melakukan kebaktian kepada ibu dengan menggerogoti hak istri adalah pencideraan terhadap prinsip keadilan."

Ada ungkapan yang lazim terdengar di telinga kita bahwa suami adalah milik ibunya dan istri adalah milik suaminya. Dengan cara ini, maka suami yang lebih mementingkan ibunya ketimbang istri sendiri dianggap wajar belaka.

Apabila ujaran tersebut dianggap sebagai sebuah kebenaran, para istri dijamin bakal mules akibat naiknya asam lambung karena tertekan memikirkan kalau-kalau suaminya bakal lebih kuatir dengan kebutuhan ibunya dibanding kebutuhan istri dan anak-anaknya.

Perlu diketahui bahwa gagasan di atas muncul dari cara pandang orang saja, tak memiliki basis argumentasi yang kuat, apalagi dianggap sebagai ajaran agama. Setiap makhluk adalah milik Penciptanya. Bahkan, raga kita secara esensial bukan milik kita. Buktinya adalah kita terlarang bunuh diri atau mencelakakan diri sendiri. Apabila raga adalah milik kita, sah-sah saja jika kita campakkan seperti barang bekas dengan mabuk-mabukan atau melenyapkannya sama sekali dengan menceburkan diri ke kawah Bromo.

Segala sesuatu yang membahayakan diri—mulai dari makanan, perbuatan hingga gagasan—bakal dilarang dalam hukum agama maupun sosial. Hal ini membuktikan bahwa raga hanyalah titipan Tuhan untuk dijaga baik-baik. Apabila raga sendiri saja bukan milik kita, lalu bagaimana bisa raga plus jiwa orang lain dapat dimiliki?

Kewajiban menafkahi istri dan ibu adalah dua situasi yang tidak perlu dibuat hierarki. Jika terpaksa harus melakukannya pun, kewajiban menafkahi istri jelas harus didahulukan.

Sebelum kita membenturkan dua situasi di atas, kita perlu melacaknya dari awal. Apabila ada seorang pemuda miskin yang memiliki ibu miskin yang harus ditanggungnya, pernikahan seharusnya dia tunda sampai kira-kira dia bakal sanggup mencukupi kebutuhan istri dan keluarga barunya kelak. Jika memutuskan menikah, seorang pria dan ibunya harus memahami konsekswensi sebuah tanggungjawab tersebut. Itulah mengapa menjadi orang tua harus belajar terlebih dulu, karena ketika sudah hidup ber-rumah tangga, belajar cara menjalaninya kerap terlupakan. Akibatnya, kehidupan keluarga dijalani tanpa arah.

Yang paling perlu disadari dari peristiwa semacam ini adalah dari sisi orang tua, dalam hal ini ibu. Salah satu tanda besar kesuksesan seorang ibu mendidik anak lelaki adalah ketika dia mampu menjadi suami dan ayah yang baik bagi keluarganya, bukan secara linear menjadikannya sebagai kanak-kanak dengan selalu menuruti kehendak sang ibu.

Dalam banyak kasus yang terjadi, membantu orang tua di sini sering dalam arti sekadar menuruti keinginan orang tua untuk memenuhi kebutuhan sekundernya. Hal ini seperti yang terjadi pada Niken (20), yang suaminya kerap mendahulukan kepentingan ibunya.

“Kalau dia ngasih ke ibunya itu dari uang sisa kebutuhan kita sih gak apa-apa. Ini mah terbalik, kebutuhan ibunya dulu yang dipenuhi, baru deh kebutuhan kita,” katanya.

Niken kuatir dianggap durhaka jika meminta sang suami mendahulukan istri dan anaknya. Situasi ini membuatnya tertekan apalagi saat ini dia sedang mengasuh anak yang masih bayi, sehingga membutuhkan banyak pengeluaran.

Konflik kepentingan seperti yang terjadi pada keluaga Niken banyak terjadi pada keluarga di negara kita. Bahkan, tak jarang kasus seperti ini berujung perceraian. Oleh karena itu, membahasakan pelurusan alur tanggung jawab seorang suami sekaligus anak dari ibunya perlu dijelaskan dengan strategi komunikasi yang baik.

Seorang suami menafkahi istri dan anak adalah karena kewajiban, sedangkan kepada ibunya karena menolong. Dua keadaan ini harus disadari betul oleh suami dan ibu. Sehingga, suami sadar akan kewajibannya, dan ibu tahu posisinya setelah sang anak menikah.

Dalam budaya kita, status istri memiliki ruang yang lebih sempit untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan, termasuk untuk mendapatkan hak-haknya. Oleh karena itu, mendudukkan setiap persoalan yang melibatkannya harus dengan prinsip keadilan, bukan prasangka liar tanpa nalar.

Lazimnya, setiap istri pasti bangga melihat sang suami penuh bakti kepada ibunya, sebab sikap ini akan menjadi teladan bagi anak-anaknya. Akan tetapi, melakukan kebaktian kepada ibu dengan menggerogoti hak istri adalah pencideraan terhadap prinsip keadilan, sehingga perlu diluruskan.

 

Memperkenalkan manusia purba Sangiran
Mengukur kesiapan untuk menikah
Tugas badan siber yang digagas Jokowi
Pemda harus awasi pergerakan ormas
Kesepakatan Jokowi dan emir Qatar
Fetching news ...