AS bekukan aset 4 komandan Myanmar terkait pembantaian etnis Rohingya

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

 AS bekukan aset 4 komandan Myanmar terkait pembantaian etnis Rohingya

Amerika Serikat menghukum empat komandan tentara dan polisi Myanmar serta dua satuan tentara Myanmar,dengan tuduhan melakukan pembersihan suku Rohingya dan pelanggaran hak asasi manusia di seluruh negara Asia Tenggara itu.

Hukuman Departemen Keuangan yang berlaku sejak Jumat (17/08/2018) menandai tindakan terkeras Amerika Serikat dalam menanggapi penindasan Myanmar terhadap suku kecil Rohingya, yang dimulai pada tahun lalu dan membuat lebih dari 700.000 orang mengungsi ke negara tetangga, Bangladesh, dan mengakibatkan ribuan orang tewas.

Tapi, pemerintah Presiden Donald Trump tidak membidik tingkat tertinggi tentara Myanmar dan tidak menyebut pembantaian Rohingya itu kejahatan terhadap kemanusiaan atau pemunahan, yang menjadi bahan perbantahan dalam pemerintahan Amerika Serikat.

Langkah itu diumumkan saat Menteri Luar Negeri Mike Pompeo bersiap mengeluarkan temuan penyelidikan saksama Amerika Serikat atas dugaan kekejaman pemerintah Myanmar terhadap Rohingya di negara bagian Rakhine, kata pejabat negara adidaya itu..

Penyiaran laporan tersebut, yang disusun dari wawancara di kampung pengungsi di Bangladesh, diperkirakan dilakukan pada 25 Agustus, peringatan satu tahun penindasan berdarah tersebut.

"Pasukan keamanan Burma terlibat dalam tindak kekerasan terhadap masyarakat suku kecil di seluruh Burma, termasuk pembersihan suku, pembantaian, pelecehan seksual, pembunuhan, dan pelanggaran berat lain terhadap hak asasi manusia," kata Menteri Muda Keuangan Urusan Terorisme dan Intelijen Keuangan, Sigal Mandelker, menggunakan nama lain Myanmar.

"Departemen Keuangan menghukum satuan dan pemimpin pengawas perilaku mengerikan itu sebagai bagian dari siasat luas pemerintah Amerika Serikat untuk meminta pertanggungjawaban yang bertanggung jawab atas penderitaan berat manusia seperti itu," kata Mandelker.

Hukuman itu dikenakan kepada komandan tentara Aung Kyaw Zaw, Khin Maung Soe dan Khin Hlaing serta komandan polisi perbatasan Thura San Lwin, selain Divisi Infanteri Ringan ke-33 dan ke-99. Tindakan itu menyangkut pembekuan harta pribadi di Amerika Serikat, pelarangan orang negara adidaya itu melakukan usaha dengan mereka serta pelarangan perjalanan ke Amerika Serikat.

Laporan khusus Reuters pada Juni memberikan gambaran menyeluruh tentang peran kedua divisi infanteri itu dalam serangan terhadap Rohingya.

Tentara Myanmar, yang berpenduduk sebagian besar beragama Budha, membantah tuduhan pembersihan suku dan menyatakan tindakannya adalah bagian dari perang melawan terorisme.

Kedutaan Myanmar di Washington belum menjawab permintaan akan tanggapan.

Penentang menuduh Presiden Donald Trump lambat dalam menanggapi kemelut Rohingya, sementara kelompok hak asasi manusia mencatat bahwa panglima Min Aung Hlaing belum tersentuh.

Rusia tuding Israel penyebab jatuh pesawat Ilyushin II-20
Rahasia menghasilkan anak seperti Sandiaga Uno
Meskipun menang pilpres, Prabowo tak bisa intervensi kasus Buni Yani
Golkar panggil caleg yang dukung Prabowo
 Fadli Zon laporkan balik Rian Ernest soal potong bebek angsa PKI
Berebut magnet Yenny Wahid
Bamsoet harap Yenny Wahid dukung Jokowi
Golkar anggap dukungan kadernya ke Prabowo bukan suara resmi partai
Forum caleg Golkar dukung Prabowo-Sandiaga Uno
Golkar nilai perempuan penentu utama, bukan objek pelengkap
Menyusui tandem butuh dukungan ayah ASI
Mardani dapat tugas kawal suara emak-emak
Menangkan Prabowo atau Buni Yani masuk bui
Anak berbohong, bagaimana mengatasinya?
Berhasil jatuhkan Ahok, Buni Yani masuk tim Prabowo
Fetching news ...