Suami saya lebih mempedulikan orang lain

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Suami saya lebih mempedulikan orang lain Ilustrasi

Beberapa istri mengeluhkan pasangannya yang dinilai terlalu mempedulikan nasib orang lain ketimbang berusaha memperbaiki takdir sendiri.

“Buat keluarga sendiri aja kurang, eh peduli banget dengan kekurangan orang lain,” keluh seorang istri terhadap suaminya, yang tanpa pengetahuannya kerap memberikan bantuan kepada kerabat dan orang lain.

Sikap suaminya yang “terlalu baik” tersebut sering memicu pertengkaran. Sang suami berargumen bahwa sebagai makhluk sosial, orang harus rajin menolong orang lain, sementara istrinya kukuh bahwa keluarga sendiri yang pertama harus dibantu.

Suami-istri tersebut sudah 31 tahun menikah dan dikaruniai 5 anak. Akan tetapi, sejak menikah, isu tersebut masih sering menjadi biang pertengkaran utama, karena sang istri tiba-tiba tahu dari orang lain bahwa suaminya telah memberikan ini-itu tanpa sepengetahuannya.

Situasi di atas tentu bukan monopoli pasangan tersebut. Ada banyak orang yang mengeluhkan pasangannya yang terlalu memperhatikan kebutuhan saudaranya, orang tuanya, tetangga atau orang lain yang dikenalnya.

Pada cerita fakta di atas, sang suami tampak mengidap apa yang oleh Dr. Less Barbanell (2006) disebut sebagai Caretaker Personality Disorder (CPD). Diagnosis ini bukan tanpa kritik dari beberapa psikolog, tetapi kita akan gunakan istilah ini untuk mengidentifikasi gejala pada suami tersebut. Penderita CPD mempunyai ciri-ciri: mengabaikan kepentingan, kesenangan dan kebahagiaan sendiri; terobsesi untuk membantu orang-orang yang berpotensi menolak dia; perasaan yang kosong akibat mengabaikan kebutuhannya sendiri.

Menurut orang awam, orang dengan CPD memang dikenal sangat baik dan suka menolong kepada semua orang. Orang tipe ini memang kecanduan untuk menyenangkan orang lain, meskipun dirinya dalam kesusahan.

Sayangnya, menolong secara berlebihan dapat dimasukkan ke dalam kategori cacat kepribadian. Pengidap cacat kepribadian pengemban tersebut kerap memaksakan diri memikul sesuatu yang tidak seharusnya menjadi bebannya. Orang seperti ini kacau memaknai tanggung jawab. Pengidap CPD tidak akan pernah berhenti untuk merasa kasihan dan bakal rela mengorbankan keluarga intinya karena sudah dianggap sebagai kepanjagan dirinya (extension of self). Orang tipe ini selalu berpeluang meninggalkan satu tanggung jawab guna mengemban tanggung jawab lainnya, secara serampangan.

Pengidap CPD yang telanjur dicap sebagai “orang baik” ini akan selalu membutuhkan orang lain untuk dikasihani. Dia tidak dapat menolak dengan berkata “tidak” jika dimintai bantuan oleh orang lain, maka sangat wajar jika potensi konflik dengan pasangan selalu terbuka.

Bagaimana menghadapi pasangan tipe ini?

Pengidap CPD bersifat umum, bisa pria maupun wanita. Jadi, dalam pernikahan dan keluarga, yang mengidap bisa suami atau istri, anak atau orang tua.

Yang menjadi tantangan berat bagi seorang CPD adalah perasaan bahwa apa yang dilakukannya adalah anjuran agama dan budaya sekaligus. Membantu sesama adalah hal yang harus dikedepankan, kira-kira seperti ini apa yang ada dibenak orang dengan CPD.

Orang dengan CPD terlalu sulit menerima nasihat, misalnya dari pasangan. Dia akan bertahan dengan pendapat bahwa pasangannya terlalu pelit untuk berbagi. Dia akan mengukur suatu kebaikan dengan standarnya.

Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah berusaha kompromi. Kita pandang baik dulu sikap pasangan yang suka menyenangkan orang lain, selama tidak berdampak terlalu besar terhadap kondisi ekonomi keluarga. Pasalnya, percuma jika tidak ikhlas tetapi pasangan juga tidak berubah. Jangan pernah berharap mengubah sikap pasangan sebelum kita mengubah sikap terlebih dulu.

Selanjutnya, tanamkan gagasan bahwa kebaikan bisa berbuah keburukan. Misalnya, orang yang kebanyakan disantuni lalu menjadi malas bekerja. Kebaikan yang terbaik adalah dilakukan kepada diri sendiri dan orang-orang terdekat. Tentu saja, anjuran ini bukan berarti harus pelit, tetapi harus ada skala prioritas. Orang yang sukses biasanya sangat sadar terhadap prioritas. Harus dibedakan antara memperhatikan diri dengan keegoisan.

Pengidap CPD begitu baik ke orang lain biasanya karena dia keranjingan kasih dan ketakutan tidak dihargai oleh orang lain. Berikan kesadaran bahwa ada banyak cara untuk berbuat baik tanpa mengorbankan kebutuhan keluarga sendiri. Lagipula, orang bakal masih sintas andai tidak dibantu olehnya, sebagaimana dulu orang hidup dengan baik sebelum kelahirannya, dan manusia tetap akan mendiami bumi dengan nyaman sepeninggalnya. Berikan kepastian bahwa dia pasti cukup kasih di keluarga, dan lingkungan sosial pun tidak akan menjauhkannya seandainya dia mengurangi takaran bantuan atau sesekali berkata  "tidak".  

Penyembuhan terhadap pengidap CPD akan berjalan sangat baik jika penderita diajak untuk mengalami kondisi yang di dalamnya kebutuhan, niat baik dan gagasan dirinya dan orang lain dapat berjalan beriringan. Dia harus dibawa ke lingkungan yang seimbang antara memberi-menerima dan membantu-dibantu. Hal ini paling mudah dilakukan dengan membentuk komunitas atau organisasi yang memang fokus pada perbaikan kepribadian.

Apabila hal terakhir ini sulit dilakukan, Anda bisa mulai membuat rencana-rencana sendiri dalam lingkup keluarga: menikmati hidangan bersama, bertamasya bersama atau belajar bersama dengan menghadirkan guru atau konsultan yang akan membicarakan tentang persoalan yang sedang dihadapi. Banyak orang yang tidak mau mendengar nasihat pasangan tetapi bersedia menerima saran dari seorang yang disebut ahli; padahal, pesannya sama saja. 

SEA Games rasa tarkam
Tetap setia ke Jokowi, Novanto aman?
Melindungi karya seni dari jepretan dan sentuhan
Malaysia sengaja provokasi Indonesia?
Candaan Adhyaksa Dault soal Pramuka jadi menantu idaman
Fetching news ...