Habib Rizieq dan konflik tak berujung

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Habib Rizieq dan konflik tak berujung

Satu konflik belum selesai, sudah timbul sengketa yang lain. Itulah pola hubungan yang dijalani antara Front Pembela Islam (FPI) dengan kubu Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDIP) yang direpresentasikan terutama Megawati dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan terkadang Joko Widodo.

Bertarung di persidangan, adu kekuatan massa di jalanan dan perang opini di lini massa adalah wajah hubungan antara Habib Rizieq dan balanya dengan Ahok dan kubunya.

Belum selesai kisruh kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok, kini muncul tudingan penistaan Pancasila oleh Rizieq. Sidang Rizieq belum berjalan, kubu FPI mengancam menyeret Megawati ke pengadilan karena dinilai menista agama dan Arab, gara-gara mengatakan jika berislam jangan seperti orang Arab.

Gejala seperti ini jelas tidak sehat. Seharusnya, mereka menyelesaikan dulu kasus pertama, yakni dugaan penistaan Almaidah 51 oleh Ahok, lalu melakukan rekonsiliasi. Jika hendak membuat konflik lagi setelah itu, itu terserah mereka yang berkepentingan.

Akan tetapi, menimpa sebuah konflik yang belum ada rekonsiliasi dengan konflik lain adalah mala petaka. Yang terancam adalah kesatuan kita, karena hal itu akan menjadi tontonan buruk bagi generasi kita.

Dalam sebuah keluarga, perseteruan orang tua, yang secara langsung disaksikan anak namun tidak diakhiri dengan rekonsiliasi di hadapan mereka, akan melahirkan generasi yang cacat cara pandang 'disabled view' sekaligus cacat kehendak ‘disabled will’, demikian kata psikolog AS John Bradshaw.

Generasi yang cacat cara pandang akan rawan berkubang kepada keyakinan palsu tentang sebuah persoalan, dia kan kesulitan mencari jalan keluar dari sebuah masalah. Sementara itu, generasi yang tunakehendak adalah mereka yang tidak tahu cara mengungkapkan apa yang mereka rasa atau inginkan, orang seperti akan mudah dikendalikan oleh orang lain, termasuk dikendalikan oleh opini di media sosial. Jika sebuah generasi mengalami dua kecacatan tersebut, mereka tak ubahnya buih, terombang-ambing oleh angin yang mengendalikan mereka.

Jika terus mengedepankan konflik tanpa tahu kapan akan melakukan islah, jelas Rizieq, Ahok dan Megawati hanya menciptakan disfungsi dalam sebuah negara kesatuan. Konflik yang mereka ciptakan akan menciptakan generasi bangsa yang gemar dengan kubu-kubuan; apabila menolak terlibat, mereka akan lari dari Indonesia—jika tidak bisa tinggal di luar negeri, mereka akan tetap tinggal di Indonesia tetapi tidak memiliki patriotisme. Fenomena seperti ini sudah menjadi pola, semacam hukum alam.

Peran yang jalani Rizieq dan FPI tidak hanya menciptakan konflik dengan Mega, Ahok atau Jokowi, kini mereka harus berhadapan dengan Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI).

Kejadian ini bermula ketika anggota FPI mengawal pemeriksaan Habib Rizieq Shihab di Polda Jawa Barat dalam kasus dugaan penistaan lambang negara.

Beberapa laskar FPI dikeroyok anggota GMBI. Tak hanya itu, GMBI juga menghadang mobil yang dikendarai laskar FPI dan menghancurkannya di tengah jalan. Penyerangan yang dilakukan anggota GMBI dibalas oleh laskar FPI hingga bentrokan pun tak bisa terhindarkan. Sedikitnya tiga anggota FPI luka serius dan dilarikan ke rumah sakit.

Konflik tak berhenti sampai di situ, malam harinya di Bogor, anggota FPI membalas dengan membakar markas GMBI di Ciampea. Menyusul kemudian pengerusakan terjadi di Tasikmalaya dan Ciamis.

Konflik dengan GMBI belum diselesaikan, FPI kini melibatkan Kapolda Jawa Barat Irjen Anton Carliyan karena dia menjadi pembina GMBI. FPI menuntut Kapolri mencopot Anton dengan mengerahkan ribuan massa, karena diduga terlibat sebagai aktor intelektual ricuh di depan Mapolda Jabar saat pemeriksaan Habib Rizieq sebagai saksi kasus penistaan Pancasila.

Terlepas dari isu ada adu domba, permainan intelejen dan sejenisnya, drama konfik ini sudah sangat melelahkan, jika tidak meracuni otak anak bangsa. Jangan pakai rumus “semakin seru berkonflik, semakin berarti sebuah kemenangan”, lebih baik menggunakan rumus “menang tanpa berkonflik.”

Kepada Rizieq, Ahok, Megawati, FPI dan GMBI, silakan mengambil peran dalam drama, entah antagonis atau protagonis, tapi sadarlah bahwa kalian semua dijadikan tontonan oleh generasi bangsa. Kalian mengatakan sinetron tidak mendidik, ingatlah bahwa tontonan yang kalian suguhkan jauh lebih buruk; Selesaikan dulu satu babak konflik, baru membuat drama lagi. Jangan membuat drama konflik yang kacau dan tak berujung, yang hanya mencerminkan kekacauan cara pikir para pemainnya dan meracuni otak penontonnya.

SEA Games rasa tarkam
Tetap setia ke Jokowi, Novanto aman?
Melindungi karya seni dari jepretan dan sentuhan
Malaysia sengaja provokasi Indonesia?
Candaan Adhyaksa Dault soal Pramuka jadi menantu idaman
Fetching news ...