Readup

Film “Pedagogic”, potret buram di balik seorang ibu pekerja

REPORTED BY: Siti Dzakiyyah

Film “Pedagogic”, potret buram di balik seorang ibu pekerja Film ini diangkat dari pengalaman, kisah nyata serta hasil riset ratusan kasus psikologi anak yang terjadi di wilayah Bandung dan sekitarnya.

Di zaman yang serba maju seperti saat ini, bukan hal yang tabu melihat wanita bekerja di luar rumah. Jumlah wanita yang bekerja bahkan hampir seimbang dengan jumlah pria. Sejak digadang-gadangkan emansipasi wanita, kini hampir di setiap perusahaan maupun lembaga pemerintahan, wanita diberikan porsi untuk bisa mencari nafkah layaknya seorang pria. Bahkan sejarah mencatat, Indonesia pernah memiliki pemimpin negara seorang wanita.

Berbagai macam faktor seperti kemajuan perindustrian, pendidikan serta pola pikir masyarakat yang berkembang, mendorong para wanita untuk mendobrak paham wanita tidak pantas untuk bekerja di luar rumah.  Hal tersebut tentunya juga merubah peran sosial-budaya di kaum para ibu.

Seperti yang kita ketahui bahwa ibu merupakan madrasatu ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Walau ayah juga sebenarnya berperan penting dalam mengasuh anak. Tetapi secara kodrat tetap wanitalah yang paling pas dalam mengasuh anak, sedangkan pria mencari nafkah untuk menghidupi keluarga.

Dari pernyataan di atas, tentu akan menimbulkan pertanyaan bagaimanakah peranan ibu pekerja dalam mengasuh anaknya? Lantas siapa yang akan mengasuh anak jika seorang ibu bekerja? dan bagaimana dampak anak yang ditinggal kerja oleh ibunya dan diasuh oleh orang lain?

Hal tersebut telah dikupas dan disajikan dalam film berjudul “Pedagogic, Behind The Working Mother” karya Muhammad Alwi Jabbarullah dan Muhammad Luthfi Nurkamal Abdurrahman. Keduanya merupakan alumni mahasiswa program D4 Prodi Televisi dan Film di Institut Seni Budaya Indonesia.

Dalam penyajiannya, Sutradara Alwi mengungkapkan bahwa film ini diangkat dari pengalaman, kisah nyata serta hasil riset ratusan kasus psikologi anak yang terjadi di wilayah Bandung dan sekitarnya.

Alwi mengaku insiprasi dalam membuat film “pedagogic” didasarkan oleh keprihatinan terhadap dampak yang terjadi pada anak akibat ibu yang bekerja di luar rumah dan kurangnya kasih sayang, perhatian, serta pola asuh anak yang tidak teratur.

Sedangkan kata “pedagogic”, lanjut Alwi, diambil dari bahasa yunani yang berarti pendidikan. Dalam kata lain juga berarti seni dalam menjadi guru.

 

“Saya ingin film ini bisa menjadi guru, seperti kata “pedagogic” itu sendiri yang berarti seni dalam menjadi guru. Saya ingin memberikan informasi dan wawasan melalui sebuah karya film,” ungkap Alwi saat diwawancarai seusai screening film “pedagogic”, beberapa waktu lalu.

Alwi mengaku sebelumnya film ini mendapat penolakan dari berbagai pihak, sebab akan menimbulkan pro dan kontra di masyarakat serta membawa pengaruh yang besar. Namun karena kegigihan dan tekad yang kuat akhirnya film ini lulus screening pada tahun 2016 lalu.

“Saat itu tidak ada yang ingin menjadi pembimbing saya, mereka menganggap saya terlalu mengada-ada. Mereka hanya melihat dipermukaan, kalau saya melihat film ini dari dasar,” tuturnya.

Alwi mengaku dalam proses pembuatan film “pedagogic” ini tidak mudah. Banyak tembok yang harus dihancurkan. Pemahaman dan pemikiran yang sudah seharusnya didekontruksi dan dipertimbangkan.

Sementara itu, Director of Photography (DOP) film "Pedagogic" Luthfi Nurkamal menjelaskan bahwa penuturan gaya dalam film ini menggunakan Poetic Documentary karena cenderung memiliki interpretasi subjektif pada subjek-subjeknya.

“Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, pengambilan gambar sangat di perhatikan Director of Photography mengekplorasi gambar secara bebas dan mengembangkan ritme yang mendukung untuk kebutuhan Sutradara melalui gambar yang diambil,” papar Luthfi.

Film dokumenter ini dikatakan orisinil dari segi ide dan konsep yang diangkat, dimana menceritakan tentang dampak anak yang ditinggal kerja oleh ibunya yang dikemas dalam bentuk naratif. Film ini bercerita dengan visual yang berisi tentang apa saja yang anak lakukan ketika ditinggal orangtuanya saat bekerja.

Film dokumenter yang berdurasi 31.38 menit ini juga diharapkan memiliki jawaban salah atas permasalahan yang kini nyata terjadi di masyarakat.

“Saya sangat berharap film ini akan membuka mata dunia terhadap dampak dari seorang ibu yang bekerja di luar rumah,” tandasnya.

5 kesalahan mengirim lamaran pekerjaan via email
Hadapi puncak haji, jemaah mulai bergerak ke Arafah
Raihan medali perdana Indonesia di hari pertama Asian Games
3 sebab mengapa orang pintar kerap kesepian
Tren baju adat dalam peringatan HUT RI
 AS bekukan aset 4 komandan Myanmar terkait pembantaian etnis Rohingya
Banjir hadiah untuk bocah NTT pemanjat tiang bendera
Menkumham hemat Rp118 miliar dari pemberian remisi
Jangan khianati perjuangan pendiri bangsa
Kemeja \
3 kisah tragis pendiri Indonesia di akhir hidupnya
PDIP optimistis Farhat Abas jadi jubir yang baik
Alasan Sekjen PDIP sering nyinyir terkait mahar 1 Triliun
4 sejarah tradisi perayaan HUT RI ini ternyata punya kisah menarik
7 pengetahuan tentang seks yang perlu diketahui sebelum menikah
Fetching news ...